Pages

Showing posts with label Kebijaksanaan. Show all posts
Showing posts with label Kebijaksanaan. Show all posts

Benarkah Hidup Hanya Menunda Mati

Sudah selama ini hidup masih juga ragu tentang topik "untuk apa kita sebenarnya hidup". Bukan bermaksud untuk patah semangat tapi sedikit bertanya-tanya tidak ada salahnya. Sebenarnya sih sudah banyak alasan yang kita dengar dari orang lain bahkan jauh sebelum generasi kita pertanyaan ini sudah dijawab.

Apakah kita puas dengan jawaban-jawaban itu atau tetap dalam keraguan? Pilihan ada pada diri kita sendiri. Lagipula menjalani salah satunya atau keduanya sama saja. Berpura-pura menerima norma dan apa yang sudah menjadi kesepakatan umum atau benar-benar menghayatinya atau berada diluar sama sekali dari sistem yang ada. Lalu apakah kita siap menjadi berbeda dengan yang lainnya.

Terutama berbeda dengan orang-orang yang selama ini dekat dengan kita. Ketakutan menjadi sendiri adalah wajar sehingga kepura-puraan bisa menjadi alternatif yang sedikit merepotkan. Paling tidak mereka percaya kita masih seperti sedia kala. Atau jangan-jangan mereka punya pemikiran yang sama. Lalu siapa seharusnya yang berani membahas itu semua. Memikirkannya saja ngeri.

Untuk sementara kita harus menyimpan tanya "apakah hidup hanya menunda mati?"

Tuhan Dan Kekuasaannya

Kita dan mahkluk lainnya di jagat raya ini tidak lebih dari sebuah wayang yang boleh saja dimainkan sekehendak hati dan menurut cerita yang disukai sang dalang. Lalu siapa dalang kita? tentu saja Tuhan yang maha esa, Beliau tidak akan memberikan kita kesempatan untuk berbuat semau kita.
Jika kita membantah maka kita harus siap menanggung resikonya, sunguh sangat maha kuasa Tuhan itu.  Tuhan adalah penguasa tunggal jagat raya ini, tidak akan ada yang bisa menandingi. Tetapi masih banyak orang yang mencoba-coba untuk berbuat miring.

Kemana Tuhan Melangkah Dari Sana Aku Berlari

Beberapa waktu lalu di tv ada acara saya lupa namanya, seseorang membuat pengakuan yang membuat saya berpikir dan menerawang. Pengakuannya kira-kira begini.
"Saat itu saya merasa dititik terendah dalam hidup saya, ayah saya sakit sedangkan saya baru saja tamat kuliah dan belum bekerja. Saat saya mendapatkan pekerjaan walaupun gajinya tidak seberapa ayah saya meninggal dunia. Sungguh perpisahaan yang tidak bisa saya terima. Saat itu saya berpikir tuhan tidak adil, dan mulai meragukan keberadaannya. Kalaupun Dia ada kenapa saya dibuat seperti ini, rasanya seperti ingin membalas saja. Jiwa saya kosong dan meninggalkan segala macam yang berbau rohani."

Sebagian dari kita pasti pernah merasakan seperti itu, bertanya-tanya apakah Tuhan itu memang ada? Memang sulit sekali membuktikan bahwa Tuhan itu ada, argumen bahwa siapa lagi yang bisa menciptakan dunia ini selain Tuhan belumlah cukup bagi saya. Musibah dan kebahagiaan kadang mempengaruhi kualitas kepercayaan kita.

Disaat susah kadang kita baru ingat akan keberadaan Tuhan, kita terlalu naif minta maaf setelah apa yang telah kita perbuat. Jika anda berbisik "Saya tidak percaya kepadamu Tuhan" tidak akan ada sesuatupun terjadi pada anda. Itulah mengapa orang-orang sedikit meragukan keberadaannya. Orang-orang yang berbuat jahat tetap saja bisa tertawa. Yang miskin tentu menjalani hidup yang berbeda, dengan jumlah uang yang cukup mereka bisa membeli apa saja. Kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan bentuk, nasib dan pikiran yang berbeda.

Lebih-lebih dengan adanya banyak agama di dunia ini, masing-masing mengklaim Tuhan merekalah yang paling benar. Jika di dunia ini ada 100 agama apakah itu berarti ada 100 Tuhan? ataukah Tuhan dari agama-agama itu hanya satu? mungkin kita saja yang terlalu berani memberikan berbagai macam nama.

Sering kita lihat mereka yang terlibat korupsi adalah orang-orang yang beragama, lalu apakah mereka sudah tidak takut lagi kepada Tuhan? Atau mereka tau bahwa Tuhan akan memaafkan mereka? Lalu haruskah kita menjauh dari Tuhan?

Bagaimana caranya agar kita tetap percaya, sedangkan banyak ujian yang merongrong kepercayaan tersebut. Jika Tuhan ada kenapa kita tidak bisa melihatnya? Ketika di sekolah guru kita memberi tau bahwa bumi itu bulat apakah kita langsung percaya? apakah kita pernah melihat bumi dari luar angkasa? Di buku pasti ada gambar bola bumi yang berbentuk bola dan apakah hanya dengan gambar tersebut sudah membuat kita percaya? Lalu anda mungkin pernah mendengar argumen ini, jika kita berdiri dipantai maka yang pertama terlihat dari suatu kapal adalah layarnya, maka disimpulkan bumi itu bulat.

Kenapa kita bisa percaya dengan sedikit informasi tersebut, sedangkan meragukan Tuhan padahal banyak sekali yang bersaksi bahwa Tuhan itu memang benar-benar ada. Hidup adalah misteri dan seterusnya akan begitu. Apa yang membuat anda percaya bahwa Tuhan itu ada?